Abu Umamah menceritakan, bahwa suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shalallahu
‘alaihi wassalam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku
berzina!”. Para sahabat pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya,
“Diam kamu!”
Rasulullah SAW berkata,
“Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk di hadapan beliau. Nabi SAW bertanya, “Relakah engkau jika
ibumu dizinai orang lain?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda itu.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai... Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai. “Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai. Relakah engkau jika bibimu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai. Relakah engkau jika bibi dari ibumu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”. Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina. (HR Ahmad No. 22211, http://www.konsultasisyariah.com).
“Tidak, demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda itu.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai... Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai. “Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai. Relakah engkau jika bibimu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai. Relakah engkau jika bibi dari ibumu dizinai?”
“Tidak, demi Allah wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”. Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina. (HR Ahmad No. 22211, http://www.konsultasisyariah.com).
Begitulah cara Rasulullah SAW melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Beliau lebih mengutamakan lisan yang justru lebih meresap ke dalam hati seseorang.
Dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kita memang harus melihat kondisi dari orang yang kita ajak bicara terlebih dahulu sebelum memilih cara yang tepat dalam melakukan nahi munkar kepadanya.
Amar ma’ruf kepada sesama muslim harus dilandasi dengan niat karna Allah, tolong-menolong, dan niat mengingatkan kepada saudara kita yang sedang dicoba salah agar kembali kepada kebenaran.
Firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 6, “Dan saling tolong menolonglah atas kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan saling tolong-menolong atas dosa dan permusuhan. Dan takutlah kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”
Amar ma’ruf selain bermanfaat bagi yang di-amar-ma’rufi, juga bermanfaat bagi yang ber-amar ma’ruf. Apa saja?
- Menjadi orang yang beruntung dan mendapat rahmat dari Allah. “Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan (Islam), memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali Imron 104).
- Terhapus beberapa dosa. “Fitnahnya seorang laki-laki di dalam istrinya, hartanya, anaknya dan tetangganya. Menghapus kepadanya adalah sholat, shodaqoh, serta amar ma’ruf dan nahi munkar.” (HR Bukhori).
- Mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti ajakannya. “Barang siapa yang mengajak (manusia) pada hidayah, maka baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang mengajak (manusia) pada kesesatan maka dia mendapatkan dosa sebanyak dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Abu Daud, shohih).
- Mendapat pahala yang nilainya lebih besar daripada mendapatkan unta merah (kendaraan termahal pada zaman Rasulullah SAW). “Demi Allah niscaya bahwasanya Allah member hidayah sebab engkau (Ali bin Abi Thalib) pada seorang laki-laki, itu lebih baik daripada kamu mendapatkan merahnya ternak (unta merah).” (HR Bukhori).







0 komentar:
Posting Komentar